sumber gambar: kompas regional
Pentigraf: Rosyidah Purwo
Pagi buta masih gelap,
namun sudah mulai terang karena fajar yang mulai terlihat. Panci berisi bubur sumsum ia gendong di
punggungnya dengan kain batik lusuh panjang. Pada kedua tagannya menjinjing
tenggok plastik kumal tempat nasi kuning, nasi uduk, dan beberapa lauk yang ia
jual. Dengan berjalan kaki, ia bawa semua beban itu menyusuri tiap halaman
rumah dengan harapan ada yang sudi membeli dagangannya. Suara nyaring khasnya
selalu memecah keheningan di pagi buta. Saat orang-orang tengah asyik
menyiapkan sarapan dan repot memandikan para buah hati untuk bersekolah ia
sudah beraksi dengan suara khasnya, “bubur..bubuuuuur! Bubur Mbak…! Bubur
Mas..!”
“Mohon maaf, Bu, tanah
dan rumah Ibu sudah dijual kepada kami”.
Seperti disambar petir di siang bolong. Satu-satunya harta yang ereka miliki
telah raib. Rumah yang menjadi tempat berteduh dan berlindung dari teriknya
matahari dan dinginya hujan serta tempat istirahat melepas penat sepulang
menjajakan jualan, kini sudah tidak bisa ditempati lagi. Dijual sebagi tebusan
judi online oleh anak laki-lakinya dan suaminya.
Komentar
Posting Komentar