Aku dan Closet Kamar Mandi Sekolah*)
Oleh: Rosyidah Purwo

sumber gambar: www.istockphoto.com
Sore hari setiap selesai bimbel di sekolah, aku selalu meminta ijin kepada
guru bimbel di kelasku untuk ke toilet. Hampir tidak pernah absen. Di waktu
yang sama toilet yang sama.
Sore hari ini adalah sore terakhir aku melaksanakan bimbel di sekolah. Aku
tidak mengetahui ternyata sore ini adalah sore tarkhir guru wali kelasku
mengetahui kebiasaanku pergi ke toilet tiap sore selesai bimbel.
Aku dibuat kaget olehnya. Tanpa sepengetahuanku, tiba-tiba guru itu sudah
berdiri di samping pintu kamar mandi. Perasaan bersalah, malu, dan takut campur
aduk menjadi satu. Aku sempat mencuri pandang kepadanya. Aku lihat sekilas ada
bulir air mata bening yang mengambang di ke dua pelupuk matanya.
“Maaf, Bu, saya belum pulang. Karena saya belum dijemput” kataku terbata.
Bu guru memeluk tubuhku yang sedikit gempal dengan pelukan hangat. Aku
merasakan pelukan itu seperti pelukan ibuku.
“Terimakasih ya, Nak, kamu luar biasa” katanya terbata dengan bibir sedikit
gemetar.
Aku mengangguk perlahan, lalu berpamitan. Sebelum meninggalkan kamar mandi,
aku melihat sekilas bu guru wali kelasku memotret kamar mandi yang baru saja
aku masuki.
Malam hari selesai sholat Isya, ibuku mendapat pesan panjang dari bu guru
wali kelasku.
Assalamualaikum warahmatullohi wabarokatuhu
Untuk Ibu dan keluarga, teruntuk ananda Tsuroya yang hebat!
Kemuliaan bukan terlihat pada apa yang ia kenakan
Kemuliaan bukan terlihat dari apa yang ia katakan
Kemuliaan datang dari hati yang tulus dan jernih
Tsuroya sudah menjadi teladan yang hebat. Diam-diam ia melakukan kegiatan
mulia setiap sore di jam kepulangan. Ia membersihkan toilet kamar mandi tanpa
diminta ataupun disuruh. Terimakasih Bapk/Ibu, sudah mendidik ananda menjadi
anak yang berbudi pekerti baik. Salam hangat dan sayang dari saya Nindya
Puspitasari, wali kelas Fulanah.
Ibu memeluku dengan erat. Antara haru dan bahagia.
“Jadi selama ini kamu minta dijemput telat karena melakukan hal ini?”
Aku hanya mengangguk pelan. Ibu memeluku sekali lagi.
Karena aku bercita-cita ingin menjadi pahlawan kebersihan di negeriku
tercinta, walau dengan hal kecil yang sepele, aku akan menghargainya dengan
sepenuh hati.
Membersihkan closet bukan hal yang hina. Bahkan bisa menjadi mulia jika
melalukannya dengan hati yang tulus. Kataku dalam hati.
Aku cinta toilet bersih, karena aku cinta Indonesia!
Purwokerto,
23 April 2026
15.48
wib
*) cerpen ini dijadikan contoh untuk kegiatan Antologi
cerita level 6 SD Al Irsyad AL Islamiyyah 02 Purwokerto tahun 2026 dengan nama
tokoh anak dan nama pengarang adalah Fulanah
Komentar
Posting Komentar