Langsung ke konten utama

Tebeng Knalpotnya Disteples Saja, Bu

 

foto hasil jepretan sendiri

Suatu siang di hari Sabtu, saya Bersama dua buah hati menyusuri jalanan aspal penuh dengan lobang sana-sini. Sebagaimana biasanya kami lebih sering menggunakan waktu antar jemput anak-anak sekolah dengan berbincang riang.

Saat roda kendaraan tidak sengaja melaju di atas jalan berlobang, tebeng knalpot motor Beat warna hitam dengan sedikit corak hijau terjatuh. Karena laju kendaraan cukup kencang, saya tidak begitu memerhatikan. Anak sulung saya berkata, “Ibu knalpotnya jatuh” dengan suara keras.

“Biarkan saja, itu tebengnya bukan knalpotnya,” jawab saya.

“Lah, Ibu harusnya diambil…” kata anak saya yang ke dua.

“Itu sudah pecah, Mba…” begitu sapa saya kepadanya. Sapaan Mba saya gunakan karena kebiasaan saat memanggilnya di depan dua adiknya.

“Apa tidak apa-apa, Bu?” tanya anak sulung saya.

“Tidak apa-apa, Mas. Lagian kan sudah pecah…”

“Ya, tidak apa-apa Ibu, kan bisa dipasang lagi pakai streples,” timpal anak saya yang ke dua. Anak lucu yang mintanya dipanggil putri Lani.

Saya dan si sulung spontan tertawa gemas.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Merah Jambu

  sumber gambar: https://depositphotos.com/ Cerita Mini: Rosyidah Purwo *) Suara gaduh di sudut ruangan terdengar sampai ruang kepala sekolah. Pak Agung guru olah raga yang terkenal galak di mata anak-anak bergegas menuju sumber suara. Terihat seorang anak laki-laki dengan lebam di sudut bibir atas. Sorot mata pak Agung tajam dan menusuk. Anak laki-laki itu tersenyum penuh kemenangan seteleah merasa berhasil membalas pukulan teman satu bangkunya. “Kamu lagi, kamu lagi!” kata pak Agung dengan nada tinggi. “Ke ruang BK sekarang!” lanjutnya. “Kamu juga, ikut ke ruang BK!” tunjuk pak Agung pada anak laki-laki lain yang sama-sama lebam akibat pukulan keras. Suara riuh penuh cemooh mengiringi keprgian mereka ke ruang BK. Bu guru Aini dengan tekun mendengarkan kisah dua murid laki-lakinya yang baru saja berkelahi. Dengan seksama pula bu guru Aini mencatat sambil mendengarkan cerita mereka. Lalu memberikan sebuah kartu kuning kepada mereka. “Karena ini bukan kejadian yang perta...

Tentang Asa

  sumber gambar: kompas regional Pentigraf: Rosyidah Purwo Pagi buta masih gelap, namun sudah mulai terang karena fajar yang mulai terlihat . Panci berisi bubur sumsum ia gendong di punggungnya dengan kain batik lusuh panjang. Pada kedua tagannya menjinjing tenggok plastik kumal tempat nasi kuning, nasi uduk, dan beberapa lauk yang ia jual. Dengan berjalan kaki, ia bawa semua beban itu menyusuri tiap halaman rumah dengan harapan ada yang sudi membeli dagangannya. Suara nyaring khasnya selalu memecah keheningan di pagi buta. Saat orang-orang tengah asyik menyiapkan sarapan dan repot memandikan para buah hati untuk bersekolah ia sudah beraksi dengan suara khasnya, “bubur..bubuuuuur! Bubur Mbak…! Bubur Mas..!”   Di rumah, suaminya masih terbaring di tempat tidur, sementara anak laki-lakinya  sibuk bermain game di smartphone. Mereka tidak peduli dengan kerja keras perempuan itu, yang setiap hari berjuang untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka. Perempuan itu tahu bahwa sua...

Guru Aini; Guru , Pahlawan yang Betul-Betul Tanpa Tanda Jasa

  Oleh: Narsiti, S.Pd. Judul Buku                   : Guru Aini Pengarang                    : Andrea Hirata Tebal Buku                  : 306 halaman Penerbit                        : PT Bentang Pustaka Tahun Terbit               : 2020   Sumber Gambar: https://mojokstore.com/wp-content/uploads/2020/01/Guru-Aini.png Apabila dalam puisi Balada Sang Guru karya Kadang Dwija disebutkan guru adalah ia yang terus melaju, ia yang tanpa kelu membangun pondasi…ia yang tanpa lelah merejam kebodohan, betul adanya. Dalam sebuah buku berjudul Guru Aini karya...