Langsung ke konten utama

 

   Beneran Ini Bekas Cubitan? 

sumber gambar: dokumen pribadi


        Suatu malam menjelang tidur, saya dikagetkan dengan jeritan anak saya. Lengan atas tangan kiri saya senggol dengan tidak sengaja. Padahal si Sulung adalah tipe anak yang tidak mudah merespon dengan jeritan ketika disentuh bahkan sentuhan yang keras sekalipun. Rupa-rupanya ia dicubit oleh kakak kelasnya di sekolah.

Saat saya meminta untuk diperlihatkan bagian yang dicubit ia menolak. Lalu saya beralih meminta kepadanya untuk bercerita kronologi kejadian. Ia tidak mau bercerita kepada saya. Karena penasaran mengapa ia menutupi lengan bagian atas dan mengapa ia tidak mau bercerita kronologi kejadianya, saya pun mengancamnya.

Kebetulan ia sangat suka dengan cerita seru kejadian sehari-hari saya, adik-adiknya, dan dirinya. Saya jadikan ini celah untuk memaksa dirinya mau bercerita. Bahwa saya tidak mau bercerita kalau ada kejadian seru. Ternyata trik ini berhasil. Ia pun perlahan bercerita sambil menitikkan air mata dan memohon agar ceritanya jangan diceritakan kepada siapapun.

Saya pun mendengarkan dengan seksama. Rupa-rupanya ketika kegiatan pencak silat ia dicubit oleh kakak kelas. Saya tidak percaya dengan cubitan yang memberikan bekas memar seperti dipukul benda tumpul. Saya juga menanyakan bagaimana cara mencubitnya apakah sambil ditonjok atau hanya cubit saja?

Yang membuat saya tidak percaya adalah jawaban anak saya yang mengatakan hanya dicubit kecil pakai dua jari tapi kuat banget.

Setelah bercerita kepada saya, sepertinya ia sudah lega, nyatanya saat saya membuka lengan bajunya ia tidak menolak dan dengan senang hati ia menyodorkan memarnya kepada saya. Setelah semua ditumpah ruahkan, ia menitipkan pesan kepada saya, “Ibu jangan ceritakan ini kepada siap-siapa ya?

Saya bergeming dengan pesan itu. Dua hari setelah kejadian saya menceritakan kejadian kepada guru pencak silat. Setelah kejadian cubitan itu, sampai hari ini anak saya belum mau mengikuti kegiatan tambahan pencak silat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku dan Closet Kamar Mandi Sekolah

  Aku dan Closet Kamar Mandi Sekolah*) Oleh: Rosyidah Purwo   sumber gambar: www.istockphoto.com Sore hari setiap selesai bimbel di sekolah, aku selalu meminta ijin kepada guru bimbel di kelasku untuk ke toilet. Hampir tidak pernah absen. Di waktu yang sama toilet yang sama.  Sore hari ini adalah sore terakhir aku melaksanakan bimbel di sekolah. Aku tidak mengetahui ternyata sore ini adalah sore tarkhir guru wali kelasku mengetahui kebiasaanku pergi ke toilet tiap sore selesai bimbel. Aku dibuat kaget olehnya. Tanpa sepengetahuanku, tiba-tiba guru itu sudah berdiri di samping pintu kamar mandi. Perasaan bersalah, malu, dan takut campur aduk menjadi satu. Aku sempat mencuri pandang kepadanya. Aku lihat sekilas ada bulir air mata bening yang mengambang di ke dua pelupuk matanya. “Maaf, Bu, saya belum pulang. Karena saya belum dijemput” kataku terbata. Bu guru memeluk tubuhku yang sedikit gempal dengan pelukan hangat. Aku merasakan pelukan itu seperti pelukan i...

Benda Mati Milik Kita Saja Allah SWT Muliakan

Benda Mati Milik Kita Saja Allah SWT Muliakan Oleh: Rosyidah Purwo sumber gambar: www.cahayaislam.id Pikiran usil ini muncul saat saya sedang mengikuti pengajian rutin pekanan. Saat itu guru ngaji adalah Ustadz Arif Rahman Hakim, Lc. Beliau adalah gurunya para guru di sekolah tempat saya mengabdikan diri. Memang sudah tidak diragukan lagi dengan gelar Lc yang melekat pada beliau. Saat menjelaskan materi selalu jernih, jelas, lugas, dan tuntas. Asal ada waktu saja, pasti materi selalu selesai tanpa akhir yang mengambang. Materi ngaji adalah tafsir QS Al Muthoffifiin. Dalam QS Al Muthoffifiin ada salah satu ayat yang membicarakan tentang tempatnya catatan amal kebaikan manusia. Adalah di ' illiyyiin '. Tempat tertinggi dan mulia (kalau tidak salah tertinggi) tapi kalau mulia ini tidak salah ya. Catatan amal kebaikan manusia, adalah benda mati. Allah SWT masih memuliakan sedemikian rupa????? Dengan tanda tanya yang banyak muncul di kepala. Aku sempat merinding dibuatnya dengan pik...

Surat Merah Jambu

  sumber gambar: https://depositphotos.com/ Cerita Mini: Rosyidah Purwo *) Suara gaduh di sudut ruangan terdengar sampai ruang kepala sekolah. Pak Agung guru olah raga yang terkenal galak di mata anak-anak bergegas menuju sumber suara. Terihat seorang anak laki-laki dengan lebam di sudut bibir atas. Sorot mata pak Agung tajam dan menusuk. Anak laki-laki itu tersenyum penuh kemenangan seteleah merasa berhasil membalas pukulan teman satu bangkunya. “Kamu lagi, kamu lagi!” kata pak Agung dengan nada tinggi. “Ke ruang BK sekarang!” lanjutnya. “Kamu juga, ikut ke ruang BK!” tunjuk pak Agung pada anak laki-laki lain yang sama-sama lebam akibat pukulan keras. Suara riuh penuh cemooh mengiringi keprgian mereka ke ruang BK. Bu guru Aini dengan tekun mendengarkan kisah dua murid laki-lakinya yang baru saja berkelahi. Dengan seksama pula bu guru Aini mencatat sambil mendengarkan cerita mereka. Lalu memberikan sebuah kartu kuning kepada mereka. “Karena ini bukan kejadian yang perta...