Langsung ke konten utama

Surat Merah Jambu

 

sumber gambar: https://depositphotos.com/

Cerita Mini: Rosyidah Purwo*)

Suara gaduh di sudut ruangan terdengar sampai ruang kepala sekolah. Pak Agung guru olah raga yang terkenal galak di mata anak-anak bergegas menuju sumber suara.

Terihat seorang anak laki-laki dengan lebam di sudut bibir atas. Sorot mata pak Agung tajam dan menusuk.

Anak laki-laki itu tersenyum penuh kemenangan seteleah merasa berhasil membalas pukulan teman satu bangkunya.

“Kamu lagi, kamu lagi!” kata pak Agung dengan nada tinggi.

“Ke ruang BK sekarang!” lanjutnya.

“Kamu juga, ikut ke ruang BK!” tunjuk pak Agung pada anak laki-laki lain yang sama-sama lebam akibat pukulan keras.

Suara riuh penuh cemooh mengiringi keprgian mereka ke ruang BK.

Bu guru Aini dengan tekun mendengarkan kisah dua murid laki-lakinya yang baru saja berkelahi. Dengan seksama pula bu guru Aini mencatat sambil mendengarkan cerita mereka. Lalu memberikan sebuah kartu kuning kepada mereka.

“Karena ini bukan kejadian yang pertama kalinya, Bu Guru berikan kartu kuning ini. Kalian berikan kepada wali kelas ya” katanya tegas tapi lembut.

Dua anak laki-laki itu saling beradu pandang. Lalu menerima lembaran kuning berisi catatan kenakalan mereka. Kemudian berpamitan.

Sebelum keluar ruangan salah satu dari mereka mengeluarkan sebuah kertas warna merah jambu, kemudian menciumnya lalu tersenyum bangga.

“Ade, kertas apa yang kamu cium tadi?” tanya bu guru Aini penuh selidik.

Murid laki-laki pemilik nama Ade menyerahkan selembar kertas warna pink di tangannya. Menguar wangi lembut khas aroma parfum perempuan.

Bu guru Aini membukanya, lalu membaca tulisan di dalamya. Matanya beradu pandang dengan Ade, rasa gemas, marah, geregetan campur aduk jadi satu.

“Kamu mencintai guru Fisika?” tanyanya dengan nada kesal. Yang ditanya mengangguk perlahan.

“Kalian berkelahi karena sama-sama jatuh hati pada bu guru Fisika?!” tanyanya geram.

Mereka mengangguk bersama dengan lesu. Dengan berjalan gontai seolah tidak pernah melakukan kesalahan mereka berlalu dari ruang BK.

“Ade, ayo kita cabut!” suara Galuh membuyarkan lamunan kawan karibnya.

Dengan langkah tegap mereka beranjak menuju gedung sederhana namun bersih dan rapi. Terpampang tulisan huruf capital dengan model tahoma font 500  berwarna biru langit pada gerbang masuk, “Rumah Asuh Yatim Piatu Komandan Ade Galuh Gunawan”

                                                                                                Purwokerto, 270825

15.13 wib

Sudut ruang kelas

 


*)Rosyidah Purwo, nama pena dari Narsiti, guru ngaji dan pengasuh anak-anak. Aktif menulis sejak 2009 sampai hari ini. Beberapa buku antologi sudah diterbitkan. Juga satu buah buku solo. Karya-karyanya beberapa kali mampir di harian Suara Merdeka, Wawasan, Radar Banyumas, Republika.


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku dan Closet Kamar Mandi Sekolah

  Aku dan Closet Kamar Mandi Sekolah*) Oleh: Rosyidah Purwo   sumber gambar: www.istockphoto.com Sore hari setiap selesai bimbel di sekolah, aku selalu meminta ijin kepada guru bimbel di kelasku untuk ke toilet. Hampir tidak pernah absen. Di waktu yang sama toilet yang sama.  Sore hari ini adalah sore terakhir aku melaksanakan bimbel di sekolah. Aku tidak mengetahui ternyata sore ini adalah sore tarkhir guru wali kelasku mengetahui kebiasaanku pergi ke toilet tiap sore selesai bimbel. Aku dibuat kaget olehnya. Tanpa sepengetahuanku, tiba-tiba guru itu sudah berdiri di samping pintu kamar mandi. Perasaan bersalah, malu, dan takut campur aduk menjadi satu. Aku sempat mencuri pandang kepadanya. Aku lihat sekilas ada bulir air mata bening yang mengambang di ke dua pelupuk matanya. “Maaf, Bu, saya belum pulang. Karena saya belum dijemput” kataku terbata. Bu guru memeluk tubuhku yang sedikit gempal dengan pelukan hangat. Aku merasakan pelukan itu seperti pelukan i...

Benda Mati Milik Kita Saja Allah SWT Muliakan

Benda Mati Milik Kita Saja Allah SWT Muliakan Oleh: Rosyidah Purwo sumber gambar: www.cahayaislam.id Pikiran usil ini muncul saat saya sedang mengikuti pengajian rutin pekanan. Saat itu guru ngaji adalah Ustadz Arif Rahman Hakim, Lc. Beliau adalah gurunya para guru di sekolah tempat saya mengabdikan diri. Memang sudah tidak diragukan lagi dengan gelar Lc yang melekat pada beliau. Saat menjelaskan materi selalu jernih, jelas, lugas, dan tuntas. Asal ada waktu saja, pasti materi selalu selesai tanpa akhir yang mengambang. Materi ngaji adalah tafsir QS Al Muthoffifiin. Dalam QS Al Muthoffifiin ada salah satu ayat yang membicarakan tentang tempatnya catatan amal kebaikan manusia. Adalah di ' illiyyiin '. Tempat tertinggi dan mulia (kalau tidak salah tertinggi) tapi kalau mulia ini tidak salah ya. Catatan amal kebaikan manusia, adalah benda mati. Allah SWT masih memuliakan sedemikian rupa????? Dengan tanda tanya yang banyak muncul di kepala. Aku sempat merinding dibuatnya dengan pik...