Langsung ke konten utama

Benda Mati Milik Kita Saja Allah SWT Muliakan

Benda Mati Milik Kita Saja Allah SWT Muliakan

Oleh: Rosyidah Purwo

sumber gambar: www.cahayaislam.id

Pikiran usil ini muncul saat saya sedang mengikuti pengajian rutin pekanan. Saat itu guru ngaji adalah Ustadz Arif Rahman Hakim, Lc. Beliau adalah gurunya para guru di sekolah tempat saya mengabdikan diri.

Materi ngaji adalah tafsir QS Al Muthoffiifin. Memang sudah tidak diragukan lagi dengan gelar Lc yang melekat pada beliau. Saat menjelaskan materi selalu jernih, jelas, lugas, dan tuntas. Asal ada waktu saja, pasti materi selalu selesai tanpa akhir yang mengambang.

Dalam QS Al Muthoffifiin ada salah satu ayat yang membicarakan tentang tempatnya catatan amal kebaikan manusia. Adalah di 'illiyyiin'. Tempat tertinggi dan mulia (kalau tidak salah tertinggi) tapi kalau mulia ini tidak salah ya.

Catatan amal kebaikan manusia, adalah benda mati. Allah SWT masih memuliakan sedemikian rupa????? Dengan tanda tanya yang banyak muncul di kepala. Aku sempat merinding dibuatnya dengan pikiranku yang terlalu jauh ini. 

Saya juga sempat terinngat kembali dengan tulisan saya yang beberapa waktu lalu saya tuangkan dalam SW (tulisan ini ada yang ngejulidin, dan ada yang bilang ke saya tulisannya ada yang menilai berbahaya) wek wek wek.

Saya pun berpikir Allah SWT itu kan dzat paling mulia yang menciptakan kita dengan segala detail kerumitannya. Masih memuliakan catatan amal kebaikan kita sebagai makhluk ciptaan-Nya. Lah kita manusia kok kadang ada yang masih sembarangan saja ya memerlakukan mushaf Al Qur'an? Di bawah tumpukan buku-buku, di dalam jok motor, disejajarkan dengan kaki. Innaalillah...

Okelah kalau ada yang memerlakukan demikian karena belum paham apa-apa tentang memerlakukan mushaf dengan baik dan benar, tapi sayangnya apabila yang memerlakukan ini ada dari kalangan orang yang tahu ilmu agama, tahu adab dalam hidup.

Bila menganggap karena mushaf Al-Quran sekedar tulisan di atas kertas, sehingga menganggap pantas untuk diletakan sembarangan semau jidat lo! coba renungkan tentang kandungan isi QS Al Muthoffiifin. 

Yukkk lebih baik lagi dalam memerlakukan atau malah lebih kerenya memuliakan mushaf Al-Quran. Banyak lafal اَللّهُ di dalamnya. Lafal اَللّهُ dibawa ke kamar mandi saja tidak boleh. Lalu mengapa harus diletakan di dalam jok motor, disejajarkan dengan telapak kaki, ditenteng layaknya belanjaan dari warung. Takut mengkultuskan? Jadi memberhalakan? Mengkultuskan apanya? Coba baca isi di dalamnya bro!

Aku jadi teringat peristiwa di kegiatan MUSCAM BADKO LPQ pada Ahad lalu. Saya sedang menyajikan buah untuk para tamu. Kebetulan yang datang sebagai tamu diketahui dari salah satu ormas keagamaan Muhammadiyyah.

Saat saya meletakan piring buah di meja, tamu tersebut menggeser dengan pelan mushaf Al Quran yang terletak di bawah piring buah yang saya bawa. Padahal piring buah tidak di atas mushaf (ditumpuk) tapi atas bawah (sejajar). Aku terhenyak, ya Allah, subhanallah, tidak hanya ormas agama NU saja ternyata yang memuliakan Al-Quran sedemikian rupa. 

Kaget dan agak gemetar. Saya pun berpikir, jadi yang pernah saya lihat beberapa orang yang memerlakukan Al Quran dengan kurang atau boleh dikatakan tidak selayaknya dari manakah asalnya? Silakan dijawab dengan santun pertanyaan di bagian akhir tulisan ini.

Bacalah tulisan ini dengan nada lembut 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Merah Jambu

  sumber gambar: https://depositphotos.com/ Cerita Mini: Rosyidah Purwo *) Suara gaduh di sudut ruangan terdengar sampai ruang kepala sekolah. Pak Agung guru olah raga yang terkenal galak di mata anak-anak bergegas menuju sumber suara. Terihat seorang anak laki-laki dengan lebam di sudut bibir atas. Sorot mata pak Agung tajam dan menusuk. Anak laki-laki itu tersenyum penuh kemenangan seteleah merasa berhasil membalas pukulan teman satu bangkunya. “Kamu lagi, kamu lagi!” kata pak Agung dengan nada tinggi. “Ke ruang BK sekarang!” lanjutnya. “Kamu juga, ikut ke ruang BK!” tunjuk pak Agung pada anak laki-laki lain yang sama-sama lebam akibat pukulan keras. Suara riuh penuh cemooh mengiringi keprgian mereka ke ruang BK. Bu guru Aini dengan tekun mendengarkan kisah dua murid laki-lakinya yang baru saja berkelahi. Dengan seksama pula bu guru Aini mencatat sambil mendengarkan cerita mereka. Lalu memberikan sebuah kartu kuning kepada mereka. “Karena ini bukan kejadian yang perta...

Tentang Asa

  sumber gambar: kompas regional Pentigraf: Rosyidah Purwo Pagi buta masih gelap, namun sudah mulai terang karena fajar yang mulai terlihat . Panci berisi bubur sumsum ia gendong di punggungnya dengan kain batik lusuh panjang. Pada kedua tagannya menjinjing tenggok plastik kumal tempat nasi kuning, nasi uduk, dan beberapa lauk yang ia jual. Dengan berjalan kaki, ia bawa semua beban itu menyusuri tiap halaman rumah dengan harapan ada yang sudi membeli dagangannya. Suara nyaring khasnya selalu memecah keheningan di pagi buta. Saat orang-orang tengah asyik menyiapkan sarapan dan repot memandikan para buah hati untuk bersekolah ia sudah beraksi dengan suara khasnya, “bubur..bubuuuuur! Bubur Mbak…! Bubur Mas..!”   Di rumah, suaminya masih terbaring di tempat tidur, sementara anak laki-lakinya  sibuk bermain game di smartphone. Mereka tidak peduli dengan kerja keras perempuan itu, yang setiap hari berjuang untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka. Perempuan itu tahu bahwa sua...

Guru Aini; Guru , Pahlawan yang Betul-Betul Tanpa Tanda Jasa

  Oleh: Narsiti, S.Pd. Judul Buku                   : Guru Aini Pengarang                    : Andrea Hirata Tebal Buku                  : 306 halaman Penerbit                        : PT Bentang Pustaka Tahun Terbit               : 2020   Sumber Gambar: https://mojokstore.com/wp-content/uploads/2020/01/Guru-Aini.png Apabila dalam puisi Balada Sang Guru karya Kadang Dwija disebutkan guru adalah ia yang terus melaju, ia yang tanpa kelu membangun pondasi…ia yang tanpa lelah merejam kebodohan, betul adanya. Dalam sebuah buku berjudul Guru Aini karya...