Oleh: Narsiti
![]() |
| sumber gambar: jateng.antaranews.com |
Bismillah Walhamdulliah wala haula wala quwwata illa billah…
Puji Syukur kepada Allah kita panjatkan atas semua karunianya. Sholawat dan salam mudah-mudahan selalu tercurah kepada nabi jujungan kita Muhammad SAW keluarga serta sahabatnya dan pengikut-pengikutnya hingga akhir zaman.
Menyampaikan materi kultum dengan impovisasi di forum asatidzah yang sudah pada hebat-hebat ini sebenarnya nggak pas ya…apalagi temanya OMG ngeri…dengan bahasa yang tinggi ada transformasi ada tradisi
Kalau biasanya kultum hanya membaca hadist lalu terjemahnya lalu makna yang tinggal baca itu mah sudah biasa, gak papa karena nanti ada pakar yang akan menjelaskannya, tapi kalau yang ini, masya allah kudu cari reverensi sana sini lalu dismapaikan dengan teliti dan hati-hati. Sebenarnya ya belum pas, tapi mau bagaimana lagi ya wong sudah tugas kan tidak boleh menolak
Bismillah asatidzah saya awali dengan sebuah hadis Bukhori Muslim
لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ
Artinya: "Bagi orang yang berpuasa, ada dua kegembiraan yang dia dapatkan: kegembiraan ketika berbuka puasa dan kegembiraan ketika bertemu dengan Rabbnya (Tuhannya)." (HR. Bukhari dan Muslim).
Sebenarnya banyak hadist shohih yang membicarakan tentang Ramadhan
ada man shoma romadhona iimanan wahtisaban…
ashoimu junnahun
ayyu afdoli shodaqotun
man umrota
dll aku gak hafal
Tapi aku ambil yang ini saja, sebab temanya ada tradisi ada transformasi pokoke bahasnya itu OMG banget lah ya..
Ada makna dalam banget dalam hadist ini. Nabi Muhammad SAW seorang sosok yang luar biasa di mata Allah maupun manusia, tapi menyampaikan sebuah kegaungan Allah berupa puasa dengan sesuatu yang biasa di mata manusia yaitu عِنْدَ فِطْرِهِ
Berbuka itu kan sesuatu yang sepele karena hubunganya dengan makanan, tapi mengapa Nabi SAW ambil dan diletakan pada awal dalam hadist ini? Kalimat pertama dalam hadist itu, bukan لِقَاءِ رَبِّهِ
Artinya kebutuhan pokok manusia secara fitrah itu bahagia dengan masalah dunia walau itu hal yang sepele, baru ia akan mengenal tuhan setelah kebutuhan pokok dipenuhi.
Orang yang lapar, orang yang marah nggak bisa diajak mengenal Allah. Sebab yang ia butuhkan adalah makanan, dimingi-imingi dapat pahala, bisa masuk surga kalau dalam kondisi lapar kondisi marah ya gak masuk. Sebab yang ia butuhkan adalah ketenangan batin.
Sebelum Islam datang, puasa Ramadhan itu sesuatu yang aneh, banyak ditolak, apalagi dikenalkan hadist-hadist keutamaan ramadhan ya nggak masuk. begitu Islam datang, disebarkan melalui orang-orang pilihan Allah SWT ke penjuru dunia, termasuk ke Nusantara (Indonesia) pada masa setelah merdeka, puasa menjadi hal yang bisa diterima dan menjadi sebuah rutinitas mulia yang tiap tahun kehadiranya dinantikan.
Orang-orang pun menyambut dengan kebiasaan lokal masing-masing.
di Arab Saudi, Kuwait ada kebiasaan menyambut Ramadhan dengan anak-anak memakai pakaian bagus berkeliling kampung atau kota, menyalakan meriam sambut ramadhan
Lalu apakah puasa sekedar tradisi atau transformasi?
Aku si nggak setuju ya kalau apa yang dilakukan oleh orang-orang yang berpuasa dengan kebiasaan harianya atau awal hadirnya dalam menyambutnya hanya sekadar disebut tradisi, sebab tradisi itu gak ada tuntunannya. Tapi perlu digaris bawahi ya tidak semua tradisi itu jelek, ada tradisi yang bagus banyak malah.
Misal gini orang awam di desa itu kalau mau hadir bulan ramadhan mereka keramas di sore harinya, ya ini pernah saya teliti di kajian antropologogi. Ternyata tujuan mereka adalah untuk menyambut bulan Ramadhan harus dalam kondisi bersih dan suci, lah ini kan bagus walau secara syariat tidak ada.
Di tempat saya kalau menjelang Ramadhan itu ada Sadranan, pagi hari bakda subuh kumpul di masjid membawa makanan berdoa bersama lalu makan bersama. Karena seneng besoknya mau Ramadhan, lah ini kan juga bagus. Ada sosialnya ada sedekahnya ada berbagi ada kebersamamanya. Tapi sayangnya orang-orang wahabi salafi ngecap ini sebagai bid’ah. Mereka masuk neraka katanya. Innalillah…kita nggak kaya gitu la ya…kita kan harus berdampingan, dan orang masuk surga atau neraka kan karena ridlo Allah bukan penilaian manusia.
Kita kan juga perlu mengingat kisah perempuan pezina yang menolong seekor anjing atas ridlo Allah masuk surga. Siapa yang sangka kan ya? hanya karena satu kebaikan yang tulus ia bisa menjadi penghuni surga, lah ini kan hadist shohih masa kita mau mengelak kan nggak…ya itu kan ridlo allah…
Sebenarnya saat bulan Ramdahn tiba kita itu ya bertransformasi…
Dari yang setiap hari bangun gasik ogah-ogahan ini dipaksa bangun untuk makan sahur. Ya kalau sudah baik ya solat tahajud juga baca Al Quran juga, tapi minimal kan makan sahur. Itu bagi orang biasa yang tidak pernah puasa dan puasanya hanya pas Ramdahan saja adalah luar biasa. Tolak ukur transformasi jangan dengan kita ya…kalau kita mah bener-bener sudah bertransformasi.
Apalagi yang bekerja, biasanya masak pagi saja, ini dituntut untuk masak pagi dan sore itu kan transformasi juga, lelah-lelah dipaksa dan bahagia juga untuk masak demi menenti buka puasa.
Lalu diingatkan untuk solat teraweh setelah Isya dan mereka ke masjid, apalagi yang jarang ke masjid kok mau ke masjid, ini kan juga sebuah transformasi banget…orang yang nggak pernah ke masjid apalagi untuk solat kok mau ke masjid itu berat, berat sekali. Lah ini kok mau datang ke masjid ya walau sekali dua kali, dan mereka bahagia bukan main bisa masuk masjid bisa solat bareng
Jadi kesimpulanya, ramadhan yang kita lakukan tiap tahun apakah sekedar tradisi atau trasnformasi, di situ ya ada tradisi ya ada trasnformasi, dua-duanya jalan bareng. Mana yang lebih baik? dua-duanya baik, tradisi jadi ruhnya, trasformasi jadi malaikatnya, bisa diibaratkan begitu la ya…
Terimakasih dari saya, mohon maaf lahir bathin barangkali banyak salah silakan dikoreksi apabila ada yang kurang pas.

Komentar
Posting Komentar