Langsung ke konten utama

ES LILIN & MEMOAR MASA KECIL

sumber gambar: doc pribadi

Pagi ini, perut terasa keroncongan. Maklum sarapan tadi pagi buru-buru jadi hanya beberapa suap yang masuk ke dalam perut. 

Sebelum berangkat ke sekolah bersama anak-anak, saya selalu menyempatkan diri untuk sarapan pagi kalau sedang tidak berpuasa sunnah atau wajib.

Pukul 08.30 wib, usai melaksankan kewajiban menebar ilmu untuk generasi tunas muda mendatang, perut meronta-ronta meminta untuk diisi. Saya menyempatkan diri untuk pergi ke kantin sekolah. 

Saya mencari nasi kuning yang menurut hemat saya cukup praktis dan hemat di kantong. Sebelum saya membayar, mata saya melihat sebuah termos es berisi aneka macam es lilin dengan anekamacam rasa. Tidak biasa-biasanya lidah saya seperti menginginkan sekali es lilin pagi ini. Saya memutuskan memilih es lilin warna pink.

Sampai di meja guru, saya buka karet pengikat es lilin itu dengan perlahan. Menguar bau segar, sedaaappp...wangi...wangiii sekaliiii.

Buru-buru saya cicipi es lilin warna pink dengan sepenuh hati. Ahhhhhh...betapa segarnya...ingatan saya tertuju pada masa lalu saat es ilin semacam itu menjadi jajanan istimewa bagi anak-anak. Indah...asyik...membahagiakan...

Bersambung...





 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Merah Jambu

  sumber gambar: https://depositphotos.com/ Cerita Mini: Rosyidah Purwo *) Suara gaduh di sudut ruangan terdengar sampai ruang kepala sekolah. Pak Agung guru olah raga yang terkenal galak di mata anak-anak bergegas menuju sumber suara. Terihat seorang anak laki-laki dengan lebam di sudut bibir atas. Sorot mata pak Agung tajam dan menusuk. Anak laki-laki itu tersenyum penuh kemenangan seteleah merasa berhasil membalas pukulan teman satu bangkunya. “Kamu lagi, kamu lagi!” kata pak Agung dengan nada tinggi. “Ke ruang BK sekarang!” lanjutnya. “Kamu juga, ikut ke ruang BK!” tunjuk pak Agung pada anak laki-laki lain yang sama-sama lebam akibat pukulan keras. Suara riuh penuh cemooh mengiringi keprgian mereka ke ruang BK. Bu guru Aini dengan tekun mendengarkan kisah dua murid laki-lakinya yang baru saja berkelahi. Dengan seksama pula bu guru Aini mencatat sambil mendengarkan cerita mereka. Lalu memberikan sebuah kartu kuning kepada mereka. “Karena ini bukan kejadian yang perta...

Tentang Asa

  sumber gambar: kompas regional Pentigraf: Rosyidah Purwo Pagi buta masih gelap, namun sudah mulai terang karena fajar yang mulai terlihat . Panci berisi bubur sumsum ia gendong di punggungnya dengan kain batik lusuh panjang. Pada kedua tagannya menjinjing tenggok plastik kumal tempat nasi kuning, nasi uduk, dan beberapa lauk yang ia jual. Dengan berjalan kaki, ia bawa semua beban itu menyusuri tiap halaman rumah dengan harapan ada yang sudi membeli dagangannya. Suara nyaring khasnya selalu memecah keheningan di pagi buta. Saat orang-orang tengah asyik menyiapkan sarapan dan repot memandikan para buah hati untuk bersekolah ia sudah beraksi dengan suara khasnya, “bubur..bubuuuuur! Bubur Mbak…! Bubur Mas..!”   Di rumah, suaminya masih terbaring di tempat tidur, sementara anak laki-lakinya  sibuk bermain game di smartphone. Mereka tidak peduli dengan kerja keras perempuan itu, yang setiap hari berjuang untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka. Perempuan itu tahu bahwa sua...

Guru Aini; Guru , Pahlawan yang Betul-Betul Tanpa Tanda Jasa

  Oleh: Narsiti, S.Pd. Judul Buku                   : Guru Aini Pengarang                    : Andrea Hirata Tebal Buku                  : 306 halaman Penerbit                        : PT Bentang Pustaka Tahun Terbit               : 2020   Sumber Gambar: https://mojokstore.com/wp-content/uploads/2020/01/Guru-Aini.png Apabila dalam puisi Balada Sang Guru karya Kadang Dwija disebutkan guru adalah ia yang terus melaju, ia yang tanpa kelu membangun pondasi…ia yang tanpa lelah merejam kebodohan, betul adanya. Dalam sebuah buku berjudul Guru Aini karya...