Langsung ke konten utama

Postingan

BENANG MERAH

  sumber gambar website bimbingan islam Cerpen: Rosyidah Purwo*)   Perempuan itu melirik tajam pada laki-laki yang berdiri di sampingnya. Hamparan sawah yang membentang luas dengan semburat mentari jingga di pagi hari dan kicau burung-burung serta capung yang beterbangan, tidak menjadikanya jatuh hati pada indahnya suasana pedesaan pagi itu. Embun pagi yang menempel di antara pohon-pohon padi yang sedang menguning, membasahi bagian bawah pakaian mereka. Udara pagi yang sejuk membelai-belai lembut wajah sepasang suami istri itu. “Pa, gasik nemen ?” sapa suami pada seorang laki-laki tua yang tiba-tiba melintas di pematang sawah di hadapan kami. Uban putih sudah mulai memenuhi kepala laki-laki tua itu. Jenggot dan alis matanya terlihat mulai memutih. Wajahnya kuyu dan terlihat lelah, kulitnya hitam dan sudah mulai mengeriput. Celana pendek warna hitam selutut terlihat lapuk dan kusut. Ia berjalan dengan langkah cepat dan tergesa. “ Kae wane agi tukaran (itu pak gedhe...

Lihat Kakaku Penuh Dengan Bunga

  sumber gambar dokumen pribadi Lihat kakaku penuh dengan bunga dipenuhi lebah seluruh tubuhnya Lihat matanya bengkak dua-duanya kudoakan dia mati masuk surga 😂😂😂      Tulisan di atas adalah sebuah lirik lagu gubahan anak ke dua saya. Embun Tsuroya Tsaniya Az Zahra namanya. Nada lagunya adalah nada lagu Lihat Kebunku.     Sepintas dibaca biasa saja. Tapi dibalik lagu itu ada seribu canda tawa yang membuat kami berbahagia pada pagi hari yang sibuk dengan aktifitas kejar-kejaran dengan waktu masuk sekolah dan lalu lintas yang padat merayap.      Rasa penat di pagi hari adalah menu harian saya saat sedang mengantar anak-anak ke sekolah. Sekali merengkuh dayung dua tiga pilau terlampaui. Sekalian berangkat kerja, sekalian mengantar anak.     Dengan kendaraan roda dua, tiap pagi kami bertiga saya, si Sulung dan anak ke dua saya menembus ramainya lalu lintas pagi hari dengan penuh semangat. Tiap pagi kadang dilalui dengan cemberut, kad...

Melodi Gamelan di Sepertiga Malam*)

  sumber gambar dari NU Online Cerpen: Rosyidah Purwo Pekatnya malam dini hari tidak membuat sepasang suami istri itu tetap lelap dalam tidur mereka Bangun di sepertiga malam adalah kebiasaan mereka. Meskipun kecil dan sederhana, rumah baru yang kami tempati sangatlah nyaman. Rumah permanen dengan lantai keramik warna putih dipadu padan dengan warna merah hati pada bagian teras depan rumah. Cat berwarna krem mempercantik rumah kami. Bekerja sebagai guru di sekolah swasta dengan gaji tujuh ratus ribu rupiah setiap bulan ditambah dengan penghasilan suami dari membuat roti yang dititipkan di kantin-kantin sekolah, akhirnya cukup untuk membuat rumah sederhana. “Dinda, mulai hari ini kita menempati rumah sendiri, sederhana, tapi cukup nyaman.” “Iya, Mas, tidak apa-apa. Meski sederhana ini adalah hasil jerih payah sendiri” meskipun sebenarnya ia tidak menerima dengan sepenuh hati konsep rumah barunya. Tapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur, rumah sudah berdiri tegak. *...

Rose

sumber gambar: kisah-cinta-wildan-mukhollad-di-pesantren-ruangobrol Cerpen Oleh: Rosyidah Purwo      Masih teringat bagaimana kawan lama saya yangg satu ini sangat takut dengan pisau. Tiap kali ada jadwal memasak dalam satu pekan, ia selalu menghindari pisau.  Ia akan berteriak saat melihat orang memegang pisau. Entah karena apa...                 Memasak adalah kegiatan wajib yang dilakukan oleh santri putri. Tiap santri mendapat jatah memasak 1 pekan 1 kali. Kegiatan memasak adalah saat paling dinanti karena saat itu kami para santri putri bisa melirik-melirik para kang-kang yang mengantar kayu bakar ke dapur. Ha ha ha       O iya, kami memasaknya menggunakan tungku besar yang memiliki tiga kepala. Bisa dibayangkan, bagaimana banyaknya jumlah masakan yang harus kami selesaikan. Bangun pukul 01.00 wib dini hari dan harus selesai sebelum kawan-kawan santri berangkat kuliah di pukul 06.30 wib Yah,...

Ibu, HP nya Sedang Dipinjam

Cerpen: Rsoyidah Purwo*)  Pasca pencurian HP satu-satunya di rumah, anak laki-laki itu seperti ada rasa sedikit trauma. Tiap kali diminta menjaga rumah, semua korden ditutup rapat-rapat, semua pintu dan jendela juga ditutup rapat-rapat.  Sore hari menjelang Ashar tiba, di ruang tamu dengan badan lemas karena sudah tiga hari demam dan muntah. Sambil tiduran di kursi ruang tamu, anak laki-laki berumur sepuluh tahun itu menenangkan diri.  Terlihat Perempuan muda duduk di sebelahnya sambil membelai ramput anak laki-laki itu.   “Ibu, kalau mencuri itu dapat balasan kan?”  “Iya, Mas, sekecil apapun perbuatan baik atau buruk kita pasti akan dibalas dengan sebaik-baiknya oleh Allah…”  “Pencuri HP Bapak dibalas apa tidak?”  “Kalau HPnya dikembalikan terus dia minta maaf, Allah akan memaafkan, kalau tidak dikembalikan ya besok akan mendapat balasan…” diam sejenak “Ibu, aku punya celengan, minta tolong diambil buat beli coki-coki empat box” kata anak laki-la...

Ngising

Cerpen: Rosyidah Purwo*)   Pagi hari, udara masih terasa dingin. Suara gemericik air selokan terdengar indah. Airnya yang jernih menambah indahnya suasana pagi itu.  Semburat mentari mulai terlihat di ufuk timur. Suara kicau burung dan sesekali katak bersahutan. Petani padi terlihat beberapa sedang mengaliri air.  Hijaunya persawahan membentang sepanjang mata memandang. Benar-benar pagi hari yang sempurna. “Ibu, aku ngising ” suara si Sungsu membuyarkan lamunan seorang ibu muda yang tengah asyik bercengkerama dengan kegiatan di dapur pagi itu.  Cekrek cekrek cekrek, terdengar suara seperti kamera beroperasi.  “Mas, kamu sedang apa?!” tanya ibu muda dari dapur dengan setengah berteriak. “Sedang membuat karya, Bu!” sahut si Sulung. Ia  masuk ke dalam rumah selepas menunaikan hajat alamnya pagi itu.  Entah mengapa, ia sangat suka melakukan rutinitas yang satu itu di selokan belakang rumah. Padahal closet di rumah ada.  “Mas,” sapa ibu muda itu, ...

Puluhan Buku yang Masih Menjadi Satu

Resensi  Oleh: Narsiti  Identitas Buku  Judul Buku : Pijar Lentera Asa Memoar Guru Pembelajar  Penulis : Susanto, S.Pd.  Tebal Buku : 188 halaman  Penerbit : Oase Pustaka  Cetakan Pertama : Januari 2022  Membaca tulisan memoir bergenre reals karya Susanto, S.Pd. mengingatkan saya akan karya-karya milik penulis ternama Andrea Hirata yang tulisan-tulisanya sempat booming di tahun 2010-an.  Tulisan-tulisannya sangat lekat dengan alam pedesaan. Ditulis dengan Bahasa yang sederhana dan mengalir indah. Setiap buku karya Andrea Hirata siap melahirkan cerita berkelanjutan yang berbuku-buku, dan ia berhasil mewijudkanya.  Buku karya Susanto, S,Pd. adalah salah satu buku yang patut untuk dijadikan bahan resferensi bacaan ringan, cerita didalamnya mengalir indah tidak dibuat-buat. Meskipun penjabaranya belum detail, akan tetapi sudah berhasil membawa pembaca pada gambaran hidup di daerah pedesaan terpencil.  Apabila dibaca satu kali duduk...